Universitas Al-Azhar Ingatkan Gen Z tentang Risiko Pinjaman Online dan PayLater
Meningkatnya penggunaan pinjaman online, layanan PayLater, dan kebiasaan belanja impulsif di kalangan generasi muda mulai menjadi perhatian serius dunia pendidikan dan industri keuangan. Fenomena ini dinilai dapat memicu masalah finansial jangka panjang apabila tidak diimbangi dengan literasi digital dan pengelolaan keuangan yang baik.
Baca Juga “Panduan Resmi Cara membatalkan pinjaman Seabank Pinjam“
Kondisi tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan “Literasi Fintech: Anak Muda Smart Financial User” yang digelar Universitas Al-Azhar Indonesia bersama JAPELIDI, ASPIKOM, dan Trimegah Sekuritas di Jakarta Selatan.
Kegiatan ini menghadirkan akademisi, pegiat literasi digital, serta pelaku industri keuangan untuk membahas tantangan generasi muda menghadapi sistem ekonomi digital yang semakin agresif. Diskusi juga menyoroti bagaimana media sosial dan platform digital mempengaruhi perilaku konsumtif anak muda.
Rektor UAI Ajak Mahasiswa Gunakan Teknologi secara Bijak
Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Widodo Muktiyo, mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan justru menjerat pengguna dalam masalah finansial.
Menurut Widodo, generasi muda perlu memahami bahwa literasi keuangan kini menjadi bagian penting dari kecakapan digital. Ia juga meminta mahasiswa memanfaatkan media sosial secara positif dan bertanggung jawab.
“Gunakan teknologi dan literasi finansial untuk membangun peradaban finansial yang sehat dan cerdas,” ujar Widodo dalam kegiatan tersebut.
Ia menilai generasi muda memiliki peluang besar memanfaatkan teknologi untuk membangun masa depan finansial yang lebih baik. Namun, kemampuan mengendalikan diri tetap menjadi faktor utama dalam menghadapi derasnya pengaruh ekonomi digital.
Pinjaman Online Disebut Bisa Menjadi Jebakan Finansial
Pengajar Universitas Mercu Buana, Engga Probi Endri, menjelaskan bahwa literasi fintech saat ini bukan hanya soal memahami aplikasi keuangan digital. Menurutnya, pemahaman tersebut juga menjadi bentuk perlindungan diri terhadap jebakan utang dan manipulasi platform digital.
Engga menilai banyak anak muda merasa aman menggunakan cicilan digital karena nominal pembayaran terlihat kecil. Padahal, akumulasi pengeluaran tersebut dapat berkembang menjadi beban finansial besar jika tidak dikontrol.
“Literasi fintech bukan lagi pilihan, tetapi bentuk pertahanan diri terhadap jebakan utang dan penipuan digital,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kemudahan akses pinjaman online sering membuat pengguna lupa menghitung kemampuan finansial secara realistis. Situasi itu dinilai semakin berisiko ketika pengguna terbiasa membeli barang demi kepuasan sesaat.
Media Sosial Dinilai Memperkuat Budaya Konsumtif Anak Muda
Dalam sesi berikutnya, akademisi Program Vokasi UI, Devie Rahmawati, menjelaskan bahwa media sosial kini tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga ruang yang membentuk perilaku konsumsi generasi muda.
Menurut Devie, banyak platform digital modern bekerja dengan memanfaatkan sisi emosional pengguna. Algoritma media sosial dinilai mampu membaca kondisi psikologis seseorang, termasuk ketika sedang merasa sedih, kesepian, atau ingin mendapat pengakuan sosial.
Ia menyebut kondisi tersebut membuat budaya belanja impulsif semakin sulit dikendalikan. Anak muda sering membeli barang bukan karena kebutuhan utama, melainkan demi validasi sosial dan keinginan terlihat sukses di media digital.
“Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan tidak bisa mencari uang, tetapi terlalu cepat merasa punya uang,” ujar Devie di hadapan mahasiswa.
Devie juga menyoroti munculnya fenomena “frictionless economy”, yaitu sistem ekonomi digital yang membuat proses berutang terasa cepat dan hampir tanpa hambatan psikologis. Menurutnya, layanan PayLater dan pinjaman instan membuat pengguna tidak lagi merasakan tekanan saat mengeluarkan uang.
Generasi Muda Mulai Didorong Beralih ke Investasi
Selain membahas risiko konsumtif, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa mulai memahami investasi dan perencanaan keuangan jangka panjang. Perwakilan Trimegah Sekuritas, Ceasarini Felicia, menjelaskan pentingnya mengubah pola pikir dari konsumsi menjadi pengelolaan aset.
Dalam pemaparannya, mahasiswa diperkenalkan pada konsep dasar pasar modal, saham, obligasi, dan reksa dana. Ia menekankan bahwa setiap individu memiliki profil risiko dan tujuan finansial berbeda sehingga strategi investasi juga harus disesuaikan.
Ceasarini juga mengingatkan bahwa inflasi secara perlahan dapat mengurangi nilai uang apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, generasi muda dinilai perlu mulai memahami investasi sejak dini, bahkan dengan modal kecil melalui platform digital resmi.
Literasi Finansial Dinilai Jadi Kebutuhan Utama di Era Digital
Moderator kegiatan, Irwa Rochimah Zarkasi, menilai tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Anak muda hidup dalam tekanan media sosial, budaya konsumtif, dan promosi digital yang berlangsung tanpa henti.
Sementara itu, panitia kegiatan dari UAI dan JAPELIDI, Cut Meutia Karolina, menegaskan pentingnya kolaborasi antara kampus dan komunitas literasi digital untuk membangun budaya finansial yang lebih sehat.
Menurutnya, literasi finansial di era digital tidak lagi sekadar kemampuan menghitung uang atau menabung. Generasi muda juga harus mampu memahami perilaku konsumsi, mengendalikan impuls, serta mengenali manipulasi psikologis yang muncul di ruang digital.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan finansial generasi muda sangat dipengaruhi kemampuan mengelola diri di tengah derasnya budaya konsumtif digital. Di era teknologi modern, kemampuan mengatakan “cukup” dinilai sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan uang.
Baca Juga “Saham Perpetua Resources melonjak setelah pinjaman EXIM $2,9 miliar disetujui“