MARA Manfaatkan Bitcoin untuk Danai Ekspansi Energi dan AI
MARA Holdings memanfaatkan kepemilikan Bitcoin sebagai jaminan untuk memperoleh pendanaan baru senilai $600 juta. Langkah tersebut memperkuat strategi perusahaan untuk memperluas bisnis dari penambangan Bitcoin menuju energi, pusat data, dan infrastruktur komputasi untuk kecerdasan artifisial atau AI.
Baca Juga “OJK Catat Pendanaan Pinjaman Daring Asing Naik 34 Persen hingga Juni 2026“
Pendanaan berbasis Bitcoin memungkinkan MARA memperoleh likuiditas tanpa harus langsung menjual seluruh aset kriptonya. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memanfaatkan aset digital untuk mendukung ekspansi bisnis yang membutuhkan modal besar.
Pinjaman $600 Juta Dijamin 18.750 Bitcoin
MARA memperoleh pinjaman baru dengan menjaminkan 18.750 Bitcoin sebagai agunan. Nilai Bitcoin yang dijadikan jaminan dilaporkan sekitar $1,2 miliar berdasarkan harga pasar saat transaksi.
Pendanaan tersebut melibatkan Coinbase Credit dan Two Prime Lending. Struktur pembiayaan ini memberikan MARA akses terhadap modal sekaligus mempertahankan kepemilikan atas Bitcoin yang digunakan sebagai jaminan.
Penggunaan Bitcoin sebagai agunan juga membawa risiko tersendiri. Penurunan harga Bitcoin dapat meningkatkan tekanan terhadap posisi pinjaman apabila rasio jaminan harus dipertahankan pada tingkat tertentu.
Karena itu, strategi tersebut berbeda dari penjualan Bitcoin. MARA memperoleh likuiditas dengan mempertahankan aset digitalnya, tetapi tetap menanggung kewajiban untuk memenuhi ketentuan pinjaman.
Dana Mendukung Strategi Ekspansi Long Ridge
Pendanaan tersebut berkaitan dengan strategi MARA mengembangkan aset energi dan infrastruktur digital. Salah satu langkah terbesarnya adalah rencana akuisisi Long Ridge Energy & Power di Ohio dengan nilai transaksi sekitar $1,5 miliar.
Long Ridge memiliki pembangkit listrik combined-cycle gas turbine di Hannibal, Ohio. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas sekitar 485 MW dan diperkirakan meningkat menjadi 505 MW pada paruh kedua 2026.
MARA juga akan memperoleh lebih dari 1.600 acre lahan industri yang memiliki akses terhadap air, jaringan fiber, dan infrastruktur rel. Lokasi tersebut berada berdekatan dengan operasi pusat data MARA di Hannibal.
Akuisisi tersebut memberi MARA kendali lebih besar atas sumber energi dan lokasi yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan komputasi. Strategi ini menjadi penting karena pusat data AI membutuhkan pasokan listrik dan infrastruktur digital dalam skala besar.
MARA Perluas Bisnis dari Bitcoin ke AI
Selama bertahun-tahun, aktivitas utama MARA berkaitan dengan penambangan Bitcoin. Kini perusahaan berupaya memperluas sumber pendapatan melalui infrastruktur energi dan komputasi.
MARA menyatakan akuisisi Long Ridge dapat meningkatkan kapasitas listrik yang dimiliki dan dioperasikan perusahaan sekitar 65 persen. Perusahaan juga melihat potensi hingga 600 MW beban AI dan teknologi informasi kritis di kawasan tersebut.
Perubahan strategi ini menunjukkan bagaimana perusahaan penambangan Bitcoin mulai melihat nilai ekonomi dari infrastruktur energi. Aset listrik dapat digunakan untuk mendukung penambangan kripto sekaligus kebutuhan komputasi berintensitas tinggi.
MARA menyebut Long Ridge memiliki potensi menghasilkan sekitar $144 juta EBITDA yang disesuaikan secara tahunan berdasarkan kinerja paruh kedua 2025. Perusahaan juga menyatakan biaya operasi pembangkit berada di bawah $15 per MWh.
Akuisisi Long Ridge Memiliki Struktur Pendanaan Berbeda
Nilai transaksi Long Ridge sekitar $1,5 miliar tidak sama dengan pinjaman Bitcoin senilai $600 juta. Struktur akuisisi juga mencakup pengambilalihan utang yang sudah ada pada Long Ridge.
Dalam laporan kepada regulator, MARA menyebut akuisisi tersebut melibatkan asumsi utang sekitar $785 juta atau lebih. Perusahaan juga memperoleh komitmen fasilitas bridge loan senior secured dari Barclays hingga $785 juta sebagai pendukung pembiayaan transaksi.
MARA menyatakan sisa kebutuhan pembiayaan dapat berasal dari kombinasi kas, pinjaman dengan jaminan Bitcoin, dan kemungkinan penjualan Bitcoin. Pilihan tersebut akan bergantung pada kondisi pasar ketika transaksi ditutup.
Akuisisi Long Ridge sendiri masih membutuhkan sejumlah persetujuan regulasi. MARA menargetkan penyelesaian transaksi pada paruh kedua 2026 setelah seluruh persyaratan terpenuhi.
Infrastruktur Energi Menjadi Aset Strategis
Pergeseran MARA menuju energi dan AI tidak hanya berkaitan dengan diversifikasi bisnis. Perusahaan juga berusaha menguasai infrastruktur yang dapat menjadi fondasi untuk ekspansi pusat data.
Ketersediaan listrik menjadi faktor penting dalam pembangunan pusat data AI. MARA dapat memanfaatkan pembangkit dan lahan Long Ridge untuk mengembangkan kapasitas komputasi di lokasi yang sudah memiliki infrastruktur energi.
Perusahaan menyatakan tidak berencana mengurangi pasokan listrik Long Ridge yang saat ini disalurkan ke jaringan PJM. MARA justru berencana memasangkan tambahan kebutuhan komputasi dengan pembangkitan listrik secara bertahap.
Strategi tersebut memberi perusahaan fleksibilitas dalam menentukan penggunaan energi. Penambahan beban komputasi dapat dilakukan seiring berkembangnya kebutuhan AI dan pelanggan teknologi.
Risiko Bitcoin Tetap Menjadi Perhatian
Penggunaan Bitcoin sebagai jaminan memberikan keuntungan berupa akses terhadap likuiditas tanpa harus menjual aset digital. Namun, strategi tersebut juga membuat kondisi neraca MARA lebih sensitif terhadap volatilitas harga Bitcoin.
Jika harga Bitcoin turun tajam, nilai agunan dapat berkurang. Dalam skenario tertentu, peminjam dapat menghadapi kewajiban menambah jaminan atau mengurangi pinjaman sesuai ketentuan kredit.
Risiko tersebut menjadi semakin relevan ketika perusahaan menggunakan modal berbasis Bitcoin untuk membiayai aset fisik bernilai besar. Pembangkit listrik dan pusat data membutuhkan investasi jangka panjang, sedangkan Bitcoin memiliki pergerakan harga yang jauh lebih volatil.
Karena itu, keberhasilan strategi MARA tidak hanya bergantung pada kenaikan Bitcoin. Perusahaan juga perlu memastikan aset energi dan infrastruktur AI menghasilkan arus kas yang cukup untuk mendukung kewajiban finansial.
Diversifikasi Membuka Sumber Pendapatan Baru
MARA kini berusaha membangun model bisnis yang tidak sepenuhnya bergantung pada penambangan Bitcoin. Infrastruktur energi dan komputasi memberikan peluang untuk memperoleh pendapatan dari kebutuhan digital yang berkembang.
Dalam laporan keuangan kuartal pertama 2026, MARA menyebut total portofolio energinya mencapai sekitar 1,9 GW di 19 pusat data pada beberapa wilayah. Perusahaan juga menyatakan ingin memperluas pendapatan ke pasar AI, teknologi informasi kritis, dan energi.
Perubahan tersebut mencerminkan persaingan yang semakin erat antara penambangan kripto dan kebutuhan komputasi AI. Keduanya membutuhkan listrik dalam jumlah besar dan membutuhkan lokasi dengan akses energi yang memadai.
Bagi MARA, kepemilikan Bitcoin dapat berfungsi sebagai sumber likuiditas untuk mempercepat pengembangan aset tersebut. Namun, perusahaan tetap harus menjaga keseimbangan antara ekspansi, utang, dan eksposur terhadap harga Bitcoin.
Strategi MARA Memasuki Fase Baru
Pinjaman berbasis Bitcoin senilai $600 juta menjadi bagian dari transformasi strategi MARA. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan peran sebagai penambang Bitcoin, tetapi mulai membangun posisi sebagai perusahaan infrastruktur energi dan komputasi.
Rencana akuisisi Long Ridge menjadi salah satu contoh paling jelas dari perubahan tersebut. Pembangkit listrik, lahan industri, akses fiber, dan kedekatan dengan pusat data memberikan MARA aset yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan AI.
Namun, ekspansi tersebut tetap membawa tantangan. MARA harus mengelola volatilitas Bitcoin, kewajiban utang, kebutuhan modal, serta persetujuan regulasi untuk menyelesaikan akuisisi.
Baca Juga “Tabel Pinjaman KUR BRI Agustus 2026 Terbaru, Pinjam Rp 1 Juta-Rp 50 Juta Cicilannya Segini“